Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2025

Do'a yang Tulus

"Doa menjadi makhluk paling tulus yang pernah lahir dari hati manusia." Tak ada lagi gengsi, tak ada lagi rencana, tak ada lagi sandaran selain Allah semata. Di balik suara kehidupan yang berdetak, di antara keheningan yang menunggu, di sanalah doa-doa berdesakan naik ke langit — lirih, patah-patah, tapi penuh harap. Manusia belajar bahwa hidup bisa ditarik tipis oleh seutas napas, bahwa satu detak jantung saja bisa menjadi batas antara tinggal atau pergi. Semua janji dunia seakan lenyap, semua cita-cita ditangguhkan, semua ego dikubur dalam-dalam. Yang tersisa hanyalah bisikan, 'Ya Allah, beri aku kesempatan satu kali lagi'. Tak ada doa yang lebih jujur dari doa seorang anak di sisi ayahnya yang terbaring tak berdaya. Tak ada permohonan yang lebih tulus dari doa seorang ibu di samping anaknya yang bertarung dengan ajal. Doa adalah bahasa air mata, bahasa keikhlasan, bahasa rindu yang belum sempat terucap. Karena sejatinya, manusia ini hidup hany...

Atas Rahmat Allah

kemarin aku mendapat banyak insight berharga dari salah satu guru sekaligus psikolog di Yogyakarta. Kami mengikuti semacam halaqoh yang didalamnya ada banyak pertanyaan yang dijawab dengan jawaban yang sangat sangat memberikan kami tamparan.  Satu hal yang sangat ku ingat dari diskusi kami di sore kemarin, bahwa Perlunya Controlling dalam diri atas setiap ketidak idealan yang terjadi beliau jelaskan dengan begitu detail dan membekas untuk kami... Bahwa ada banyak ketidakidealan dalam hidup ini, jangan berekspektasi pada manusia namun katakan semua yang terjadi ini atas Rahmat dari Allah. Ambil setiap momen kejadian dengan kacamata positif, ketika kita justru marah dengan keadaan, keadaan akan tetap sama dan hanya muncul rasa kecewa, keluhan dan berbagai emosi negatif. Namun, jika kita merespon dengan kacamata positif tentu ketenangan akan kita dapati dan keadaan kita akan berangsur membaik dengan respon positif yang kita berikan.

Escape

Setelah berbagai keputusan yg aku buat, aku mencoba escape dari sosial media—instagram Cukup membuatku lebih tenang dengan kebisingan yang ada. Di tengah riuhnya dunia story, setiap harinya harus banjir informasi yang membuatku pelik, to be honest lelah kalau harus mengikuti dunia sosial media. Aku mencoba untuk benar2 cut off dari Ig Ngga mudah buat bener2 off dari Ig karena udah sering buka kalau senggang, dan sekarang harus cari kegiatan lain untuk mengalihkan buat ga buka sosial media Ig Semua perlu diupayakan, karena jutsru akan banyak hal baru yang kau dapatkan ketika kau tak berjalan di garis yang sama ketika terus melihat kehidupan orang lain.