Langsung ke konten utama

Nikmat yang Terlupakan

terkadang ketika kita melihat sebagian dari orang dengan mudah membanding-bandingkan dan menerka-nerka apa yang menjadi takdir nantinya. Sungguh terkadang benar apa yang disampaikan saat kajian psikologi sepekan yang lalu, yaitu kita ini manusia yang lupa, lupa kalau kita ini telah bersaksi dihadapan Allah, kita lupa kalau kita punya Allah, kita terlalu sibuk mengkhawatirkan masa depan dan menerka-nerka apa yang terjadi di esok hari tanpa memikirkan bahwa ada Allah. Allah yang telah memberikan segala banyak hal yang telah kita dapatkan saat ini, terlebih kadang nikmat-nikmat yang kita rasakan saat ini pun mulai terlupakan dengan kekhawatiran yang kita rasakan.
Nikmat bisa berkumpul dengan keluarga, nikmat ketika kita makan dengan aman, nikmat kita masih diberikan kesehatan sehingga bisa mencoba banyak makanan ketika berbuka puasa, nikmat ketika bisa kumpul bersama saudara, tertawa bersama, nikmat itu terkadang kita lupakan dan kita ganti dengan kekhawatiran-kekhawatiran yang ada.

sadarlah bahwa setiap orang di dunia ini pasti punya masalah, tak ada orang yang hidup tanpa masalah namun yang berbeda adalah cara dia menghadapi masalah tersebut apakah dia menghadapi dengan emosi negatif atau dihadapi dengan emosi positif yang menyebabkan dia bisa kuat bisa tangguh dalam menghadapi berbagai problematika yang ada.

Dari kajian tadi mengingatkanku tentang kesepian, kesendirian yang kita rasakan saat ini adalah sesuatu yang wajar dan tak boleh diwajarkan. Wajar jika kita merasa ada di fase tersebut, tapi bukan berarti kita justru membungkus rasa itu serapat-rapatnya dan ditumpuk hingga menjadi sesuatu yang lebih besar tapi bagaimana kita bisa merelease apa yang kita rasakan tadi sebagai tantangan untuk kita kedepannya, kita bisa struggling dengan apa yang kita hadapi, lebih semangat dan tidak menjadikan hal tersebut sebagai waktu untuk kita berhenti tapi jadikan itu sebagai ajang untuk kita bisa lebih bersemangat dan bergerak.
ada pertanyaan yang tadi disampaikan oleh salah satu teman yang mengenai inner child apakah itu berpengaruh masa sekarang? dan ternyata disampaikan bahwa inner child itu tak ada itu hanya salah satu istilah yang digunakan dan dipopulerkan oleh orang-orang yang ada tanpa mengetahui maknanya secara mendalam masa lalu itu memang pasti ada bukan untuk dilupakan tapi bagaimana kita bisa berdamai dengannya, bagaimana caranya? dengan kita menentukan bagaimana kita mencari makna dan makna itu tak akan didapatkan jika kita tidak menjemput hidayah yang Allah berikan lewat apa lewat bagaimana kita bagaimana kedekatan kita dengan Allah? bagaimana ngaji kita? bagaimana ibadah kita apakah kita sudah mendekat dengan Allah atas justru ketika kita merasa sedih kita malah menjauh hal itu yang tidak dibenarkan.
Kita tahu kita milik Allah, dan kepada Allah kita kembali jadi sudah selayaknya kita sebagai hamba apapun masalah yang kita hadapi kembalilah ke Allah. Allah lebih bahagia ketika ada orang yang menjemput hidayah dibanding dengan musafir yang berlari di padang pasir mencari air lalu menemukannya.
Masya Allah, Wallahu a'lam bishowwab..

30 Maret 2024
22.51 home

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anda Berharga!

Aku masih sering merasa tak layak dalam membersamai pelajaran anak-anak yang aku ajar. Seringkali perasaan ini muncul ketika aku dihadapkan pada suatu keadaan yang membuatku mendapat tempaan, salah satunya anak yang sulit diatur dan tidak bisa diam saat aku mencoba mengajarinya. Aku lelah dengan perasaan ini😭 disisi lain aku juga bingung bagaimana aku harus mengendalikan perasaan ini, sungguh ingin rasanya tidak menjadi people pleaser yang terus memikirkan hal-hal yang membuatku merasa bersalah. Jujur aku lelah...... kali ini ada salah satu muridku yang beralih les disebabkan lebih banyak main daripada belajar, ia merasa bebas jika belajar denganku, karakternya yg suka ngatur² pun ia lakukan saat les bersamaku. siapa gurunya? siapa muridnya? tanyaku saat ia mencoba mengatur. Aku masih sangat jauh dari kata bisa marah2 saat mengajar, jika sudah keterlaluan aku akan marah, namun aku selalu mencoba meyakinkan diri bahwa pendidikan itu bisa diraih tanpa harus ada m...

Ide Brilian

terkadang ketika sedang memiliki semangat yang menggebu akan timbul banyak ide yang tak ku sangka, setelah beberapa waktu aku kembali membaca ide itu aku sejenak berpikir, "Wah kok aku bisa kepikiran ide gitu ya kemarin?" sambil tersenyum. Ada banyak ide yang terlintas dalam pikiran namun kadang juga sulit untuk menuliskannya. Terlalu banyak mikir kalau kata orang, ide yang ada itu coba dijalankan. Take Action! Ambil aja peluang yang ada, toh kamu juga belum coba.. kalau emang setelah kamu coba kamu ndak merasa cocok anggap aja sebagai pengalaman, sebenarnya banyak orang yang menasihatiku. Mari kita coba! mari kita coba ditahun ini untuk lebih produktif dan tidak lagi mendengar kata orang. Say NO to people pleasure (ga semudah itu wkw tapi yuk kita usahakan :) Ada banyak harapan dan sesuatu baru yang ingin kulakukan di tahun ini, Ya Rabb mudahkan hamba untuk bisa mencoba berbagai kebaikan di tahun  ini.  Berusaha untuk tidak meletakkan keberhargaan di...

Keluarga

pikiran penuh yang ada saat disekolah terbayar ketika aku bertemu dengan keluargaku Ku Rasa sebenarnya jika ditanya, lebih lelah di sekolah/ harus mengerjakan banyak hal dirumah saat itu, aku menjawab jawaban ke 2. Tetapi rasa lelah itu berganti ketika aku merasa ada kebahagiaan yang hadir ketika bertemu, berceloteh ria dengan keluarga itu rasanya "mahal" karena ngga semua orang bisa melakukannya. Prioritas disini juga dilatih, ada banyak hal yg sebenarnya harus dilakukan, berkaitan dengan keseharian. Tapi aku sadari waktu begitu mahal untuk dilewatkan. Jangankan waktu, kesempatan seperti ini pun juga sangat sayang untuk dilewatkan.  Aku senang bisa berbagi cerita, mengobrol, menjadi penunjuk arah, mendengarkan hal2 sehari2pun tak kalah seru. Keluarga emang harta paling berharga sih kalau kata lagu wkwkw  Udah dulu deh, gitu aja ceritanya pengen bisa rutin nulis. meskipun bahasa tulisanku belum tertata. its okay masih belum rapi. Mari Terus belajar yaa...